Redenominasi Bermanfaat atau Merugikan

Keinginan otoritas moneter melakukan penyederhanaan nilai nominal mata uang dari nilai digit nol yang berjumlah lima menjadi digit nol yang hanya berjumlah dua tentu sangat membuat keterkejutan terhadap keinginan tersebut.Tapi bila ditelusuri berita yang telah pernah dimuat diberbagai media cetak maupun elektronik sebenarnya keinginan ini telah diwacanakan pada tahun 2010 lalu.

Bila dicermati dari beberapa negara yang pernah melakukan redenominasi maka ada yang berhasil setelah melakukannya dan ada juga yang gagal.Bila dibaca dimedia cetak online yang disampaikan Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan bahwa yang termasuk negara berhasil melakukan redenominasi adalah seperti Turki, Rumania, Polandia, dan Ukraina.Sedangkan negara yang gagal dalam melakukan redenominasi adalah seperti Rusia, Argentina, Brazil, Zimbabwe.

Apabila dicermati dari kegagalan dan keberhasilan negara-negara yang melakukan redenominasi ini maka tentu perlu juga  ada keprihatinan yang perlu diperhatikan terhadap negara yang gagal sedangkan bagi negara yang berhasil tentu perlu lagi kita cermati perkembangannya kedepan terhadap gejolak mata uang negara tersebut. Karena tidak mungkinlah setelah suatu negara berhasil melakukan redenominasi maka ke depan negara ini akan terus aman terhadap gejolak perubahan nilai dari mata uangnya. Karena kemungkinan mata uang negara yang telah melakukan redenominasi  akan tergoyang atau semakin memburuk kondisi mata uangnya adalah suatu hal yang akan terus terjadi sepanjang mata uang tersebut digunakan.

Jadi bergesernya nilai nominal suatu mata uang setelah berhasil dilakukan redenominasi adalah suatu hal yang pasti akan terjadi.Kemungkinan bergeser nilai mata uang suatu negara ke keadaan sebelum dilakukan redenominasi ini tentu akan terus terjadi. Karena banyaknya faktor pendorong suatu mata uang bergerak kembali kenilai semula sebelum dilakukan redenominasi pasti akan terjadi, cuma bergeraknya cepat atau lambat tentu banyak faktor yang akan mempengaruhinya.

Sekarang yang akan menjadi pertanyaan besar adalah bila saat dilakukan redenominasi dan setelah dilakukan redenominasi keinginan penyederhanaan yang diinginkan  tidak terjadi seperti diharapkan tapi malahan terjadi sebaliknya, apakah ini membawa manfaat atau merugikan ?

Karena gejolak penurunan nilai mata uang itu pasti akan terus terjadi dimana-mana diseluruh negara.Cuma yang membedakan ada yang bergerak cepat atau lambat penurunannya.

Bila dipelajari sejarah kejadian penurunan nilai mata uang semua kejadian tersebut akan terus terjadi sejalan dengan berbagai upaya yang sangat kuat untuk memperkuat nilai mata uang ini.Karena upaya yang paling berat tersebut adalah memperkuat nilai mata uang dengan menghilangkan nominal terbesar dari mata uang tersebut.

Bila dirunut kebelakang sebelum mata uang tersebut terjadi penurunan tentu banyak hal yang perlu dicermati.Karena selama mata uang tersebut beredar tidak ada perbaikan yang memadai agar  mata uang tersebut menguat pada posisi awalnya digunakan sehingga berbagai biaya besar tidak perlu digunakan dan menambah berbagai hal yang bisa merugikan dan tidak mendatangkan manfaat.

Ini bisa diperhatikan dari dicetak mata uang dengan nilai nominal dengan digit nol yang jumlah lima , dimana pencetakannya dilakukan pada periode menjelang tahun 2000. Sedangkan mata uang dengan nilai nominal dengan digit nol yang jumlah empat dengan angka awal 1,2 dan 5 ini dicetak pada masa tahun 70 s/d 90.Ini menandakan bahwa nominal mata uang dengan digit nol diatas tiga tersebut telah berlangsung sangat lama tapi tidak ada upaya untuk memperbaikinya untuk mengembalikannya menjadi digit nol yang jumlahnya tiga sebagaimana masa sebelum mata uang digit nol bertambah.

Sehingga ini mengakibatkan nilai mata uang itu dari waktu ke waktu terus tergerus biarpun digit nol terus ditambah.Begitupun sebaliknya sekarang bila dilakukan penyederhanaan mata uang dengan menghilangkan digit nol yang jumlah lima menjadi dua digit nol, apakah nanti akan terjamin bahwa jumlah digit nol yang ada sekarang bisa bertahan dengan terjadinya kondisi yang akan mendorong bahwa digit nol harus ditambah ?

Inilah sebenarnya problema yang harus diselesaikan dengan tepat karena berdasarkan kejadian sejarah bahwa digit nol pada mata uang akan terus bertambah karena banyak faktor yang memaksakan untuk mengarah ke arah tersebut. Oleh karena itu sudah seharusnya otoritas moneter mengevaluasi ulang kembali upaya melakukan penyederhanaan nilai nol pada mata uang karena ini akan mengakibatkan upaya memperkuat nilai suatu mata uang tidak akan pernah terjadi. Sehingga mata uang tersebut akan terus bergoyang kearah penurunan dan tidak akan menjadikannya kuat untuk dijadikan sebagai alat tukar dan kebanggan bagi yang memegangnya.

Karena penyederhanaan bukanlah jalan paling baik untuk mencegah turunnya nilai suatu mata uang tapi penyederhanaan adalah hanya upaya seketika untuk memaksa nilai mata uang berkurang nilai digit nol yang banyak tersebut tapi tidak ada perbaikan mendasar terhadap nilai dari suatu mata uang.http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/12/11/redenominasi-bermanfaat-atau-merugikan-515877.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s